Pada beberapa edisi
yang lalu, saya mengatakan kepada Anda bahwa untuk mendapatkan penghasilan
tambahan, ada lima cara yang bisa dilakukan. Yakni bekerja pada orang lain,
bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian, membuka usaha sampingan atau melakukan
investasi.
Dari keempat hal tersebut, membuka usaha sampingan biasanya merupakan cara yang
cukup baik untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Dengan membuka usaha
sampingan, pertama-tama Anda mungkin harus terlibat penuh di dalamnya. Tapi
lama kelamaan, bila usaha itu besar, Anda bisa menyerahkan pengelolaannya pada
orang lain, sehingga Anda bisa punya lebih banyak waktu. Sementara pemasukan
terus berjalan.
Bandingkan dengan
apabila Anda bekerja pada orang lain atau bekerja sendiri dengan mengandalkan
keahlian. Bekerja pada orang lain jelas Anda harus mengikuti jam kerja yang
disyaratkan. Sedangkan bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian, biasanya
Anda bisa menentukan waktu kerja Anda sendiri, tapi tetap saja Anda akan sibuk.
PENGHASILAN BISA BESAR
Jangan salah kira,
usaha sampingan, apabila Anda jalankan dengan sungguh-sungguh bisa memberikan
hasil yang sama, bahkan jauh lebih besar dibanding bila Anda bekerja
pada orang lain.Saya pernah memperhatikan tukang sate yang berjualan di dekat
rumah saya. Setiap hari, dari jam 17.00 - 24.00 (7 jam kerja), ia bisa menjual
sekitar 250 tusuk sate ayam. Kalau satu tusuk dihargai Rp 400, maka ini berarti
ia mendapatkan Rp 100 ribu sehari. Dalam sebulan, ia bisa bekerja sekitar 25
hari. Ini berarti pemasukannya sebulan mencapai Rp 2,5 juta. Saya pernah tanya
berapa sih keuntungannya dari Rp 2,5 juta itu? Dia bilang sekitar 60 persen.
Ini berarti keuntungannya adalah Rp 1,5 juta setiap bulan. Itu belum termasuk
keuntungan dari penjualan lontongnya.
Tentu saja Anda tidak harus jadi penjual sate bila Anda memang tidak mau. Anda
bisa membuka usaha lain yang mungkin lebih Anda kuasai seluk-beluknya.
Prinsipnya di sini adalah "Apa pun
usahanya, kalau Anda jalankan dengan serius, hasilnya bisa besar." Pada awalnya, yang namanya usaha mungkin tidak
akan selalu berjalan lancar. Penghasilannya mungkin belum seberapa. Tapi itu
karena usaha Anda mungkin belum dikenal orang banyak. Namanya juga masih baru.
Lama kelamaan, seiring dengan makin dikenalnya usaha Anda, usaha Anda pasti
akan mulai berkembang, sehingga hasil yang Anda dapatkan makin besar pula.

Tukang sate tadi misalnya. Saya yakin, pertama kali ia membawa dagangannya,
orang mungkin masih ragu-ragu untuk mencoba satenya, karena orang baru pertama
kali melihat tukang sate ini. Tapi lama kelamaan, orang mulai memesan satenya
dan akhirnya orang ini identik dengan sate. Setiap kali ia lewat di depan rumah
saya, saya langsung teringat akan satenya. Itu bukti bahwa usaha apa
pun membutuhkan pengenalan.
Orang harus kenal lebih dulu dengan usaha Anda, apa pun usaha itu. Entah toko,
entah restoran kecil, entah usaha jahitan. Mungkin pengenalannya makan waktu
satu tahun, dua tahun, atau mungkin hanya beberapa bulan, tergantung bagaimana
promosi Anda. Setelah kenal, barulah selebihnya tergantung pada kualitas produk
Anda. Bila sekali saja konsumen tak suka, seterusnya mereka kapok membeli
produk Anda. Apa pun jenisnya. Karena itu, Anda juga harus menjaga kualitas
produk agar sesuai keinginan konsumen.
TIDAK HARUS MENINGGALKAN PEKERJAAN
Siapa bilang bahwa
Anda harus meninggalkan pekerjaan tetap Anda sekarang bila Anda menjalankan
usaha Anda? Anda tidak harus meninggalkan pekerjaan tetap Anda. Anda bisa
menjalankan usaha Anda sambil Anda tetap bekerja di pekerjaan Anda sekarang.
Hitung-hitung, Anda nantinya akan punya pendapatan yang dobel kan?
Pertama-tama, mungkin pendapatan usaha Anda masih jauh lebih kecil dibanding
gaji dari pekerjaan Anda. Tetapi lama-lama, seiring dengan makin dikenalnya
usaha Anda, usaha Anda akan makin maju, dan pendapatan usaha Anda siapa tahu
akan meningkat dan bisa menyamai gaji Anda?
Kemudian, siapa tahu juga pendapatan usaha Anda bisa meningkat lagi dan
melebihi gaji Anda? Saya banyak melihat contoh orang yang merintis usaha sambil
tetap mempertahankan pekerjaannya. Lama-lama ketika usahanya makin sukses,
pendapatan dari usahanya meningkat dan jumlahnya jauh melebihi gajinya.
Sehingga ia memiliki pilihan apakah ia akan mempertahankan kedua pendapatannya,
atau meninggalkan pekerjaannya dan terjun total 100 persen ke dalam usahanya
dengan harapan agar penghasilan dari usahanya bisa makin besar.
Bagi Anda yang menjadi ibu rumah tangga dan hanya suami yang bekerja, mungkin
bisa lebih enak lagi. Anda merintis usaha Anda, sementara suami Anda tetap
mendapatkan gaji dari pekerjaannya. Masing-masing dari Anda sekarang
menghasilkan pendapatan bagi keluarga. Bukan begitu?
SIAP MELUANGKAN WAKTU

Kalau Anda
menjalankan usaha Anda sambil masih tetap bekerja, maka Anda harus siap
meluangkan waktu. Bagi Anda yang menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga,
Anda harus siap menyisihkan sekitar mungkin 4 jam setiap hari untuk
mengurus usaha baru Anda. Bagi Anda yang juga bekerja di kantor, mungkin Anda
harus siap menjalankan usaha Anda pada malam hari. Terserah Anda. Yang jelas,
Anda harus memiliki komitmen untuk mau menjalankan usaha Anda dan jangan kaget
kalau nanti Anda akan lebih capek dari biasanya.
Ini wajar, karena Anda menjalankan dua pekerjaan sekaligus kan? Tapi apa
yang membuat Anda mau lebih capek dari biasanya? Apa yang membuat Anda mau
repot-repot menjalankan usaha Anda? Ini karena Anda ingin agar usaha Anda bisa
berkembang kelak dan pengelolaannya bisa Anda serahkan ke anak buah Anda
sehingga Anda bisa punya lebih banyak waktu untuk keluarga Anda kelak sementara
tetap mendapatkan penghasilan. Jadi, Anda investasi waktu (mau lebih sibuk)
sekarang, dengan harapan agar Anda mendapatkan waktu yang lebih banyak kelak.
Jadi, sesibuk apa pun sekarang, kenapa Anda tidak luangkan waktu untuk merintis
sebuah usaha?
PERLU DUKUNGAN KELUARGA
Minta dukungan dari
keluarga Anda. Kalau perlu, ajak suami Anda untuk ikut membantu Anda. Libatkan
suami Anda dari awal. Dengan demikian, suami Anda bisa ikut berperan dalam
usaha Anda. Dukungan suami itu penting lo. Banyak usaha rumahan yang gagal
karena tidak adanya dukungan suami.
Bukan berarti Anda tidak akan berhasil dalam usaha Anda bila tidak didukung suami,
tapi memang akan sangat membantu kalau suami Anda ikut mendukung usaha Anda
kan? Kalau perlu, jangan katakan pada suami bahwa ini adalah usaha Anda.
Katakan padanya bahwa ini adalah usaha keluarga, bukan usaha Anda. Kelak kalau
usaha ini besar, suami Anda bisa ikut terlibat di dalamnya. Bukankah akan
mengasyikkan bila suami-istri bekerja bersama membangun usaha keluarga?
TIDAK HARUS SEKOLAH TINGGI
Apakah Anda adalah salah satu dari mereka yang tidak mengenyam sekolah tinggi?
Apakah Anda cuma lulusan SMP? Apakah Anda cuma lulusan SMEA? Atau apakah Anda
sama sekali tidak pernah sekolah dan hanya punya pengalaman?
Baca ini: Anda tidak harus mengenyam sekolah tinggi lebih dulu untuk bisa
membuka usaha dan berhasil dalam usaha Anda. Kita sudah sering mendengar dan
melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ada banyak orang berhasil dalam
membangun usahanya dari nol, meski tidak memiliki pendidikan tinggi. Liputan di
NOVA, baik rubrik Profil maupun Peristiwa, sering menampilkannya.
Apa resepnya sehingga mereka bisa berhasil? Ketekunan dan motivasi untuk bisa
berhasil. Yang lebih penting, walaupun tidak sekolah tinggi tetapi
HARUS mau belajar. Belajar tidak harus ditempuh dengan sekolah. Anda bisa
belajar dari pengalaman Anda, dari buku, dan dari pengalaman orang lain (baik
keberhasilan maupun kegagalannya). Satu lagi, mereka mau memulai usahanya dari
kecil lebih dulu, sebelum lama-lama usaha itu menjadi besar. Percayalah, Anda
punya kesempatan yang sama dengan saya, dan dengan orang yang lain untuk bisa
berhasil, walaupun Anda tidak memiliki pendidikan tinggi sekalipun.
Related Posts: